Surga Yang Aku Rindukan

Wahai Rasulullah, siapa yang paling berhak aku perlakukan dengan baik? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: Ayahmu, lalu yang lebih dekat setelahnya dan setelahnya –“HR.Al Bukhari

“Selamat ulang tahun, Bu”, ucap gadis itu seraya masuk ke dalam area taman. Tidak ada reaksi yang dilontarkan oleh wanita tua itu gadis ini mulai duduk dibawah sembari memegang erat tangannya, aku bawakan bunga mawar putih untukmu Bu kau selalu suka dengan mawar putih bukan? Terima kasih Akasia kau adalah satu-satunya permata yang Ibu punya sini peluk Ibumu yang sudah mulai tua ini.

Ibu apakah engkau juga sama sepertiku sekarang? Membawakan bunga kesukaan untuk Nenek dulu? Bolehkah kau ceritakan kepadaku Bu?

Cerita itu selalu melekat indah didalam ingatanku, langit langit terasa seperti layar hidup dan pagi itu Zahwa masih terlihat sangat mungil, aku duduk di bangku kelas 5 sekolah dasar bersama Ibu aku selalu diantarnya sekolah walaupun hujan dan panas sekalipun Ibu tetap mengantar dan menjemputku, tapi semua berbeda saat Ibu jatuh sakit aku terbiasa hidup mandiri Ayah yang sibuk mencari uang untuk pengobatan Ibu dan aku tak pernah lagi bermain bersama kawan-kawan aku lebih sering membantu Ibu saat sepulang sekolah.
Tapi aku senang aku akan bisa membuat Ibu tersenyum dihari ulang tahunnya nanti, sepulang sekolah tanpa Ibu ketahui aku sengaja pergi kerumah Bibi untuk membantu membuat kue aku kerjakan apa saja yang Bibi pinta agar aku bisa mendapatkan uang jajan tambahan. Sengaja aku tak beritahu Ibu karna pasti ia tak akan suka aku membantu orang untuk mendapatkan uang, Ibu selalu berkata “Bantulah orang yang bisa kau bantu dengan ikhlas tanpa pamrih karna kapanpun kau memerlukan bantuan Allah akan mengirimkan seseorang untuk membantumu, Nak” maaf Bu, aku tidak akan pernah melupakan nasihatmu tapi hari ini aku harus bisa membawa pulang hadiah untukmu.

Hari mulai petang aku berlari kegirangan membayangkan bahwa Ibu akan tersenyum dengan wajahnya yang paling cantik, saat aku sudah didepan rumah ternyata banyak orang yang datang kukira mereka ingin merayakan ulang tahun Ibu, Ayah melihatku dengan wajah yang paling aku tak suka ia menangis sambil memelukku.

-“Ayah ada apa?

-“Zahwa Ibu sudah pulang Nak.

-“Ibu pulang kemana Yah?

-“Ibu telah pulang ke Surga sayang.

Aku diam, aku tidak mengerti dengan semua ini. Ibu pernah berkata Surga adalah tempat yang paling indah yang akan dihuni oleh manusia terbaik nantinya. Lalu kenapa mereka semua menangis? Bukankah mereka harus bahagia jika Ibu akan tinggal di Surga? Aku terus mencoba untuk mengerti semuanya..
Mereka memelukku sembari berkata “Sabar ya Nak Zahwa” lalu ada tangisan didalamnya

-“Aku ingin masuk Ayah, aku ingin memberikan bunga mawar putih ini untuk Ibu. Ibu pasti senang

-“Tapi Nak…

-“Kenapa semuanya menangis? Kenapa wajah Ibuku ditutup? Kenapa Ibu tidak berbicara kepadaku Ayah?

Sejak hari itu hari dimana Ibu telah pulang meninggalkan aku dan Ayah rumah seperti tak berpenghuni tak ada tawa didalamnya, kepada siapa nanti aku harus bercerita?

Tak ada lagi Ibu yang menyisirkan rambutku, tak ada Ibu dan tak ada Ibu yang bisa kupeluk saat aku merasa lelah dengan semua ini. Hari terus berlalu tanpa pernah memberikan izin untuk bisa sedikit mengulang hariku bersamanya, Ayah mengajariku semuanya, katanya aku masih terlalu kecil untuk bisa mengerti semuanya kelak saat aku tumbuh dewasa aku bisa mengerti apa yang saat itu terjadi kepada kami. Ayah menjadi pengganti Ibu, walaupun Ibu sama sekali tidak bisa tergantikan oleh apapun dan siapapun tapi aku kagum dengan Ayah ia adalah satu-satunya lelaki yang kupunya cinta pertama anak perempuannya Ayah bisa menjadi Ibu saat aku membutuhkan Ibu dan Ayah bisa menjadi Ayah terbaik saat aku dipecundangi dunia.
Sepuluh tahun telah berlalu aku diterima di Universitas Negeri yang ada di Bandung
-“Ayah aku pamit.

-“Hati hati nak, sering-seringlah menelepon Ayah. Ayah akan rindu suara cemprengmu itu

-“Ihhh Ayah enak saja aku tidak cempreng tauu…

-“Kau tetap Zahwa kecil yang Ayah punya Nak. Ini bawa foto kami bersamamu (Ada foto Ayah, Ibu dan Aku didalamnya) sejauh apapun kau, kami akan tetap ada dihatimu dan kami itu dekat sangat dekat.

-“Aku baru tahu ternyata Ayah bisa romantis juga ya hihi, aku pergi dulu Ayah.

Peluk yang akan selalu kurindukan, berat melepas Ayah sendirian disini tapi Ayah juga punya banyak pekerjaan di Kota dan tidak bisa ditinggalkan. Pukul 8 pagi aku sampai, Bandung akan menjadi Kota yang penuh banyak kejutan kedepannya, semester satu banyak hal yang harus aku selesaikan banyak kawan baru banyak rutinitas yang harus aku biasakan. Hari hari berjalan menyenangkan saat aku bunya banyak kawan yang bisa aku jadikan rumah, tugas pun menjadi kawan terbaik saat aku sudah mulai terbiasa dengan semuanya, Ayah datang mengunjungiku ia terlihat lebih kurus dari sebelumnya kumis dan rambut yang mulai memutih tapi peluknya tetap hangat sama seperti dulu.

-“Bagaimana kuliahmu?

-“Seru Ayah..

-“Ingat jaga kesehatanmu jangan terlalu nyaman sampai kau lupa makan.

-“Iya Ayah, kau juga harus makan yang banyak kau sudah terlihat tua saat ini hehe
(Ayah memukul kepalaku sembari tertawa)

-“Cepatlah lulus Nak

Sore itu aku dan Ayah mengelilingi Kota Bandung banyak cerita yang aku bicarakan kepadanya, Bandung selalu terlihat menawan. Waktu terus berputar, ternyata kuliah tidak seberat apa yang orang bicarakan, mereka hanya perlu berdamai dengan sesuatu yang mereka tak suka. Setelah lulus kuliah aku pindah ke Jakarta dan meninggalkan Bandung, Bandung tetap indah dan tak pernah tergantikan.

Aku bekerja di kantor swasta yang ada di Jakarta
-“Hai selamat siang

-“Iya selamat siang Pak.

-“Jangan panggil aku Bapak emang aku terlihat tua gitu? Panggil saja aku Faiq, siapa namamu?

-“Namaku Zahwa

-“Wah nama yang cantik

Setelah itu kami menjadi teman dekat, Mas Faiq yang dua tahun lebih tua dariku ternyata ia bisa mengingatkanku pada Ayah, sikap dan pemikirannya sama seperti Ayah. Hari ini kantor libur aku dan Mas Faiq berencana untuk pergi ke taman hiburan entah kapan terakhir kali aku pergi ke taman hiburan lucunya Mas Faiq terlihat seperti anak laki-laki berusia 6 tahun ia merengek untuk bisa menaiki bianglala, memohon kepadaku agar aku mau menemaninya.

-“Ayolah Zahwa, apakah kau takut?

-“Sebenarnya aku tidak takut hanya saja…
(Belum selesai aku berbicara ia sudah menarik tanganku)

Cakrawala makin menguning, kami berdua tenggelam didalam indahnya sinar senja.
-“Kamu tahu Zahwa kenapa dari kecil aku sangat sekali suka dengan senja.

-“Kenapa Mas?

-“Karena senja selalu mengingatkan aku untuk pergi mandi.

-“Dasar kau ini, aku sudah serius mendengarkannya.
(Tanganku mengacak-acak rambutnya)

-“Tapi hari ini aku ingin kau serius mendengarkanku. Zahwa Khaira maukah kau menikah denganku?

-“Kalau serius datang saja kerumahku.

-“Baik aku akan datang besok kerumahmu, untuk meminangmu wahai kekasihku Zahwa

-“Ih gombal akukan bukan pacarmu Mas.

Entah aku harus percaya atau tidak tapi yang pasti Mas Faiq itu punya selera humor yang berbeda kurasa dia tidak benar-benar melamarku saat itu

Dering ponselku berbunyi ada nama Mas Faiq didalamnya

-“Halo bukain pintu aku sudah didepan rumahmu.

-“Serius?

-“Bukannya kemarin kau yang menyuruhku datang?
Sebodoh itukah pria ini, dia tidak bisa membedakan mana perkataanku yang serius dan yang bukan

Hatiku berdetak kencang, kakiku gemetar. Ayah yang membuka pintu untuk Mas Faiq aku belum pernah mengenalkan siapapun kepadanya apalagi laki-laki yang kusukai.

-“Assalamualaikum Ayah Zahwa

-“Waalaikumsalam iya dengan siapa?

-“Saya Bapak dari Faiq Pak, saya ingin melamar anak perempuan Bapak

Ayah merangkul Mas Faiq dan tersenyum kegirangan belum pernah aku melihat Ayah seperti ini setelah Ibu pergi meninggalkan kami. Ayah memanggilku untuk berkumpul di ruang tengah, aku melihat semuanya disini ramai sekali Mas Faiq mengajak Bapak, Ibu dan Kakaknya kemari

-“Zahwa kemari Nak. Kenapa kau tidak bicara apapun dengan Ayahmu ini?
(Aku hanya bisa tersenyum dan tidak bisa menjawab pertanyaan Ayah, aku pun tidak tahu aku kira dia sedang becanda saat itu)

Aku duduk disebelah Mas Faiq, lelaki itu berbisik

-“Aku berani kan?

-“Bodoh kukira kau becanda Mas.
Semuanya mendengar pertengkaran kami lalu mereka tertawa terbahak-bahak

-“Jadi kapan acara baik ini terlaksana? Sahut Ayah

-“Bagaimana jika akhir bulan ini? Bukankah hal baik harus disegerakan?

Ayah dengan tegas menyetujui permintaan Bapak.

Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri kandung saya Zahwa Khaira dengan engkau dan dengan seperangkat alat salat dibayar tunai. Dengan tegas Mas Faiq menjawab lalu yang lain menimpali dengan kata SAH!

Ibu hari ini Zahwa kecilmu menjadi seorang Istri aku bahagia hari ini Ayahpun terlihat bahagia rupanya, banyak tawa disini banyak cinta yang hadir mendoakan kebahagiaan kami berdua semoga kau juga ikut mendoakan kami dari atas sana, aku akan berjanji untuk bisa menjadi seorang Istri dan Ibu yang baik sepertimu aku bahagia telah dilahirkan oleh seorang wanita hebat sepertimu Ibu.
Pesawat membawa kami pergi pagi ini, aku dan Mas Faiq memutuskan untuk menetap di Lombok karena disinilah Mas Faiq akan bekerja. Hari-hariku terasa lebih indah saat aku tahu Allah sangat baik padaku ia mengirimkan jodoh terbaik yang pintar dan bisa membimbingku kejalanNya. Aku adalah satu satunya wanita yang selalu mengaminkan doa terbaiknya.

Satu bulan berlalu..

-“Kau akan menjadi seorang Ayah

-“Apa aku tidak salah dengar sayang?

-“Aku serius Mas

Mas Faiq memelukku dengan sangat erat, orang yang selalu bertingkah konyol ternyata bisa juga menjadi seorang lelaki yang bertanggung jawab. Selama Sembilan bulan ia yang menjagaku bahkan aku sama sekali tidak boleh pergi kepasar katanya takut aku dicuri orang, lucu sekali suamiku ini mana ada laki-laki yang mau dengan Ibu yang sedang mengandung.

Hari ini aku akan menjadi seorang Ibu doakan aku semoga aku bisa menjadi sepertimu Ibu..
Aku masuk kedalam ruangan yang penuh dengan alat-alat tajam, ada lampu yang menyala sangat terang, Mas Faiq menggenggam tanganku ia selalu ada di sampingku, ia mencium keningku sembari berkata “kamu bisa sayangku, jangan takut aku disini” tulang belakangku seperti retak, aku menangis tapi saat itu aku melihat Ibu ada disampingku. Ia tersenyum, senyumannya sama seperti dulu masih terlihat cantik mengenakan jilbab dan baju putih Ibu memegang tanganku lalu ia berdoa, entah apa yang ia doakan untukku tapi rasa sakit itu hilang digantikan dengan suara tangis anak bayi. Mas Faiq mengalunkan Adzan ditelinga anak perempuan kami, dengan doa dan harapan Akasia akan menjadi namamu Nak.

Akasia bergeming, mendengarkan kisah sang Ibu, ternyata sudah larut malam sayang mari kita pindah keruang tengah Ayahmu sebentar lagi pulang, Akasia sayang Ibu semoga Akasia bisa menjadi kebangaan Ibu dan Ayah kelak. Aamiin Ibu selalu mendoakan mu Nak, mari masuk.

“dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya” (Q.S.Al Isra:23)
Kota Hujan
17 Januari 2019


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rintik Sendu Kotaku

Bertabur Doa

Tokoh Legendaris