Rintik Sendu Kotaku
Suara bising kendaraan bermotor selalu ramai saat jam
kantor pulang, ada yang sibuk mengejar angkutan umum, ada kekasih yang berjuang
melawan padatnya jalanan untuk menjemput sang bahagianya dan ada pula yang
berjuang melawan masalalunya, mungkin itu aku hehe
Sore ini langit kotaku benar-benar keabu-abuan mungkin
tidak lama lagi hujan akan turun, benar saja lima menit setelah aku menengadah
ke langit ia benar-benar menumpahkan air hujannya. Inilah waktunya bapak-bapak
penjual jas hujan plastik mencari rejekinya untuk keluarga di rumah, banyak
pengendara yang memutuskan untuk menepi, ada yang memutuskan untuk memakai jas hujan
lalu melanjutkan perjalanannya dan ada juga yang menerjang hujan tanpa menggunakan
pelindung.
Aku adalah salahsatu orang yang memilih memakai jas
hujan dan melanjutkan perjalananku, jika hujan tidak terlalu besar bahkan
sesekali aku memutuskan untuk bergabung dengan tarian-tarian hujan yang romantis.
Karena bagiku hujan adalah sebuah anugerah, untuk apa kita menepi saat Allah sedang
menurunkan rahmatNya, dan kota ini seketika menjadi lenggang yang terlihat
hanya jalanan kosong dengan tarian-tarian hujan.
Tepat saat aku sedang mengendarai sepeda motor, aku
melihat sepasang kekasih yang juga sedang menari-nari dengan hujan diatas
sepeda motornya tapi ada yang salah menurutku aku melihat yang mengenakan jas
hujan itu adalah si wanita bukan si lelaki yang sedang mengendarai. Itu salah
besar.
Dua tahun yang lalu, kami (tentu saja aku dan dia) seperti
wanita dan lelaki itu, selalu bersama diatas sepeda motornya bahkan saat sedang
hujan turun.
Kami sejenak menepi lalu dia membuka bagasi sepeda
motornya.
“Kamu pakai jas hujan ini ya (ucapnya dengan senyum
terindah berlesungpipi)
“enggak kamu aja yang pakai.
“sini aku pakein
“eh kan udah aku bilang, kamu aja yang pakai. Aku bisa
pake payung
“aku kan pakai jaket kamu enggak.
“gini loh kamu itukan duduk di depan, angin yang datang
juga pasti kenceng apalagi kalau lagi hujan kayak gini. Jadi kamu aja yaaaa
(dengan memasang wajah sok manis)
“iyaiyaaa, awas payung nya terbang pegangan yang
kenceng
Bahkan kami selalu tertawa dengan hal-hal yang sederhana sama
seperti menertawakan payungku yang kebalik saat dihadang angin kencang.
Malam itu seperti malam yang paling membahagiakan, aku
tidak akan pernah membiarkan ia merasa tidak baik-baik saja. Jika malam itu aku
langsung jatuh sakit mungkin aku akan bersyukur daripada harus mendengar dia
terkena flu hanya untuk melindungi aku, jika ia sakit siapa yang akan membuat
hariku berwarna? Itu yang selalu aku katakan padanya.
Bahkan saat kami terpaksa harus pulang malam dan ia
lupa membawa jaketnya, bagaimana mungkin aku siap melihat ia menggigil
kedinginan didepanku bahkan jika ia tidak ingin memakai jaketku kami sama-sama
tidak memakai jaket saat itu haha bodohnya kami saat itu.
Banyak hal kecil yang aku rasakan saat ini, seperti
menyeret semua ceritaku bersamanya dan masih banyak hal yang ingin aku
ceritakan bahkan tidak cukup satu halaman menceritakan keunikan dan kelucuannya.
Jika dia tidak pernah memikirkan aku, biarkan aku
menjadi satu-satunya orang yang selalu mengingatnya.
Itulah kenapa aku selalu menunggu hujan datang dan berharap
rintik membawa kebahagiaanku kembali.
Berbahagialah selalu di bawah tarian-tarian hujan.
Komentar
Posting Komentar