Postingan

Menampilkan postingan dari 2020

Dua Puluh Tiga

Yaa Rabbi.. Ku ucap syukur yang teramat dalam kepadaMu. Terima kasih atas nikmat yang selalu hadir dalam hari dan hatiku selama ini. Teruntuk yang tersayang, diriku sendiri. Terima kasih telah menjadi kuat selama ini. Terima kasih telah menjadi baik akhir-akhir ini. Dua puluh tiga.. Angka yang cukup matang menurut sebagian orang. Tetapi berbeda denganku. Banyak hal-hal baru yang harus aku pelajari. Menerima, memberi dan memahami. Terkadang hal sesederhana itu yang sampai detik ini bahkan sering ter-abaikan. Dua puluh tiga.. Mah, Yah. Terima kasih telah memberiku banyak pelukan selama ini. Bahkan sampai detik inipun aku masih belum bisa mengembalikan peluk yang hangat itu. Terima kasih telah berdoa untuk kebahagiaanku. Terima kasih telah membantuku kuat hingga detik ini. Semoga Allah menghadiahkan Surga tanpa hisab untuk Ayah dan Mama kelak. Agar kita bisa berkumpul kembali di SurgaNya. Dua puluh tiga.. Semoga menjadi pribadi yang selalu bisa membahagiakan semua ora...

RUMAH

Sejak awal ia memutuskan untuk pergi. Saat itu pula aku giat mendoakannya. Berdoa agar rumahku selalu bersinar dan tetap hangat. Jika saat ini rumah itu hancur, aku akan ikut hancur. Karena didalam bangunannya ada seutas tali yang sengaja ku tinggalkan, untuk menjaga agar rumah itu tetap kuat dan kokoh. Seutas tali yang dalamnya berisi banyak doa dan harapan. Dan pada saat rumah yang dulu kujadikan rumah itu hancur. Bagaimana bisa aku merayakan kehancuran itu? Rumah yang selama ini aku singgahi. Rumah yang selayaknya rumah, menaungi saat terik menyinari. Bahkan aku sendiri yang menginginkan ia tetap berdiri kokoh. Tidak terdengar lagi tawa didalamnya. Tidak ada kebahagiaan. Hanya ada kesedihan. Haruskah aku mengunjunginya? Untuk sekadar memastikan apakah ia baik-baik saja. Terkadang. Ego dan hati selalu tidak bisa berdamai perihal rumah ini. Ego yang selalu menolak untuk kembali. Dan Hati yang tak pernah lelah untuk memaafkan lalu menyiangi sibiran luka dengan te...

PUSPA

Andai saja waktu berbaik hati. Membuka obrolan seperti malam-malam biasanya. Memberanikan diri untuk bertanya ada apa sebenarnya dengan "kita". Merendahkan ego agar cerita tetap berjalan sesuai dengan alur kisahnya. Laksana puspa yang kehilangan daun pelindung. Bagian terakhir yang menjadi tempat tumbuh bunga selanjutnya. Perlahan akan mati. Meninggalkan mahkota dan kelopaknya. Banyak andai yang disesali. Satu kata, lima huruf, berjuta penyesalan. Kita seperti sepasang ego yang membatu. Yang tak pernah mencoba untuk berdamai. Tetapi aku akan tetap menyiraminya Memberi semua cahaya Agar kau bisa tetap mengenalinya Puspa. Penuh makna. Penuh pengharapan. Tirai malam hiasi serambi seribu puspa. Kerinduan yang teramat dalam. Kutitipkan semesta kepadamu. Layaknya puspa yang tetap mekar dan harum. Kehidupan pun akan terus berjalan. Meski tanah yang dipijaki. Tak lagi berarti.

Tokoh Legendaris

Halo apa kabar? Rasanya sudah lama sekali ya kita tidak berbincang dengan tawa yang sangat menyenangkan. Tenang, tenang saja. Aku tidak akan memintamu untuk kembali. Bagaimana pun sesuatu yang telah pergi akan berbeda jika terulang kembali. Aku hanya rindu, tidak kurangan dan tidak berlebihan. Kamu ingat tidak? Perihal mimpi kita yang pernah kita tulis dalam angan semesta untuk bisa membelah hutan belantara bersama, rupanya tak akan terwujud. Menikmati pergantian malam dan pagi dari atas puncak gunung juga tak akan jadi nyata. Entahlah. Entah itu benar-benar mimpi kita atau hanya aku yang berharap saja. Aku ingat sekali saat kita berjanji untuk mengunjungi Mahameru kala itu, kau yang sangat antusias dan pada akhirnya aku hanya berjalan sendiri, mengunjungi Mahameru dan menitipkan namamu dalam bingkai lengkuk awan yang kebiru-biruan, percayalah didalam hati saat itu aku menyebut namamu. Ya, nama yang semakin lama semakin memudar. Suara yang dulu jelas kudengar kini kian...

Dua Sisi, Saling Mengerti

Wanita tak terbiasa untuk memulai. Lelaki jua tak selalu piawai pandai Seandainya ia menempuh lorong di ujung perangai Tentu itu lebih ringan meski tak kunjung sampai. Menunggu seraya tersenyum menantikan kebahagiaan itu datang dengan lantunan doa terindah menunggu bahagianya kembali pulang. Pelangi gembira memang patut ditunggu Namun ambigu jika harus berharap masa lalu. Maka dari sana, Ajarkan aku tentang mencari titik cahaya Di bawah satu purnama, dirgantara gempita. Dan jika kau izinkan, bawa aku menuju ketempat Sang Surya bertakhta. Agar aku mengerti nikmat hangatnya pelukan sang mentari Jika senyummu tak lagi kugenggam, mentari akan tetap menjadi pelukan terhangat untukku. Kota Hujan,  19 April 2018. Oleh: @alik_pedia & @aksaranirwana #Kolaborasi  #Bareng #Jurnalis

Teruntuk Kamu

Assalamualaikum Untuk kamu yang masih belum sempat aku temui. Maafkan aku yang telah menuliskan ini untukmu. Ketahuilah, aku telah diam-diam membawamu dalam semua doa terbaikku Meski tidak diketahui namanya, namun aku telah terbiasa mendoakanmu dalam heningnya malam. Aku selalu percaya Kau pun juga membawaku pada doa-doa terindahmu. Aku rindu kamu Meski kita belum pernah bertemu Siapa kamu Bagaimana lengkuk alismu Selembut apa tutur katamu. Hei.. Aku sudah menyukaimu Bahkan sebelum kita bertemu Tidak usah terburu-buru Aku masih memantaskan diriku Untuk bisa bersanding denganmu Karena cinta terbaik akan datang diwaktu yang tepat. Bukan dengan waktu yang cepat. Benar begitu? Jaga dirimu baik-baik Hingga pada akhirnya, aku sendiri yang akan menjagamu dengan sangat baik. Teruntuk kamu. Kekasihku, calon Imamku.