PUSPA

Andai saja waktu berbaik hati.
Membuka obrolan seperti malam-malam biasanya.
Memberanikan diri untuk bertanya ada apa sebenarnya dengan "kita".
Merendahkan ego agar cerita tetap berjalan sesuai dengan alur kisahnya.

Laksana puspa yang kehilangan daun pelindung.
Bagian terakhir yang menjadi tempat tumbuh bunga selanjutnya.
Perlahan akan mati.
Meninggalkan mahkota dan kelopaknya.

Banyak andai yang disesali.
Satu kata, lima huruf, berjuta penyesalan.
Kita seperti sepasang ego yang membatu.
Yang tak pernah mencoba untuk berdamai.

Tetapi aku akan tetap menyiraminya
Memberi semua cahaya
Agar kau bisa tetap mengenalinya

Puspa.
Penuh makna.
Penuh pengharapan.
Tirai malam hiasi serambi seribu puspa.
Kerinduan yang teramat dalam.

Kutitipkan semesta kepadamu.
Layaknya puspa yang tetap mekar dan harum.
Kehidupan pun akan terus berjalan.
Meski tanah yang dipijaki.
Tak lagi berarti.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rintik Sendu Kotaku

Bertabur Doa

Tokoh Legendaris