Postingan

Tentang Dua Puluh Lima

Memasuki usia seperempat abad, membuat aku semakin mengerti bahwa dalam kehidupan segala sesuatu tidaklah selalu berjalan sesuai dengan apa yang kita kehendaki atau yang kita harapkan, tidak semua perjalanan dilalui dengan mudah dan terkadang juga banyak rintangan serta cobaan yang datang silih berganti. Satu tahun sebelum genap seperempat abad, aku mengerti bahwa ternyata manusia hanyalah perencana dan tetap Allah-lah yang menentukan. DituliskanNya cerita yang sangat menakjubkan sebelum genap seperempat abad, dipertemukan dengan orang-orang yang luar biasa hebatnya. Belajar tentang bagaimana merayakan kehilangan dengan luka begitu mendalam dan merelakan dengan rasa yang begitu lapang. Beberapa dari yang lain usia dua puluh lima mungkin sudah menemukan jalan hidupnya masing-masing, ada yang sudah menemukan teman hidup, ada yang sudah dikaruniai buah hati yang lucu-lucu, ada yang sudah menemukan karier di bidangnya masing-masing, ada yang sudah menyelesaikan pendidikan S1, ada yan...

Tahun Dua Ribu Dua Satu

Kembali bercerita tentang Tahun dua ribu dua satu.. Kemarin, mungkin bukan tahun terbaikku Tapi aku belajar banyak hal Tentang cara menemukan Dan kehilangan Tentang kepercayaan Kekecewaan Dan memaafkan Tahun dua ribu dua satu Ada banyak hal yang kuikhlaskan Ada banyak hal yang harus aku lepaskan Ada banyak hal yang aku kejar untuk mimpi dan cita-cita Dua ribu dua satu Apapun yang tidak kita dapatkan Semoga Allah berikan pada waktu yang tepat Karena Allah adalah bagaimana prasangka hambanya. Jadi, tetaplah percaya pada ketetapan nya. Bismillahirrahmanirrahim Hari ini, di tahun dua ribu dua dua..  Semoga menjadi pribadi yang lebih baik Dan semua kebahagiaan Allah berikan di tahun ini (aamiin) 

Badai dan Kedamaian

Jika hari ini aku bisa terlihat lebih kuat. Itu karena di masa lalu aku pernah dihadapkan dengan badai yang lebih besar. Dengan badai itu aku selalu menemukan kedamaian setelahnya. Sesekali sempat terpikir "kenapa selalu dihadapkan dengan kejadian seperti ini?". Setelah apa yang terjadi, walau terkadang terasa sangat sulit tetapi aku bisa menerima dan melupakan nya. Aku pun menemukan mimpi-mimpiku yang tertinggal. Dan aku juga menemukan makna dibalik kejadian yang terjadi. Selalu ada makna dibalik kejadian yang mungkin tidak pernah terbayangkan akan seperti ini jadinya. Aku bersyukur bahwa Allah telah menuliskan cerita hebat untukku dan aku juga percaya bahwa Janji-Nya akan selalu Indah. Semoga kita dipertemukan dengan kebahagiaan yang seutuhnya.

Dua Puluh Tiga

Yaa Rabbi.. Ku ucap syukur yang teramat dalam kepadaMu. Terima kasih atas nikmat yang selalu hadir dalam hari dan hatiku selama ini. Teruntuk yang tersayang, diriku sendiri. Terima kasih telah menjadi kuat selama ini. Terima kasih telah menjadi baik akhir-akhir ini. Dua puluh tiga.. Angka yang cukup matang menurut sebagian orang. Tetapi berbeda denganku. Banyak hal-hal baru yang harus aku pelajari. Menerima, memberi dan memahami. Terkadang hal sesederhana itu yang sampai detik ini bahkan sering ter-abaikan. Dua puluh tiga.. Mah, Yah. Terima kasih telah memberiku banyak pelukan selama ini. Bahkan sampai detik inipun aku masih belum bisa mengembalikan peluk yang hangat itu. Terima kasih telah berdoa untuk kebahagiaanku. Terima kasih telah membantuku kuat hingga detik ini. Semoga Allah menghadiahkan Surga tanpa hisab untuk Ayah dan Mama kelak. Agar kita bisa berkumpul kembali di SurgaNya. Dua puluh tiga.. Semoga menjadi pribadi yang selalu bisa membahagiakan semua ora...

RUMAH

Sejak awal ia memutuskan untuk pergi. Saat itu pula aku giat mendoakannya. Berdoa agar rumahku selalu bersinar dan tetap hangat. Jika saat ini rumah itu hancur, aku akan ikut hancur. Karena didalam bangunannya ada seutas tali yang sengaja ku tinggalkan, untuk menjaga agar rumah itu tetap kuat dan kokoh. Seutas tali yang dalamnya berisi banyak doa dan harapan. Dan pada saat rumah yang dulu kujadikan rumah itu hancur. Bagaimana bisa aku merayakan kehancuran itu? Rumah yang selama ini aku singgahi. Rumah yang selayaknya rumah, menaungi saat terik menyinari. Bahkan aku sendiri yang menginginkan ia tetap berdiri kokoh. Tidak terdengar lagi tawa didalamnya. Tidak ada kebahagiaan. Hanya ada kesedihan. Haruskah aku mengunjunginya? Untuk sekadar memastikan apakah ia baik-baik saja. Terkadang. Ego dan hati selalu tidak bisa berdamai perihal rumah ini. Ego yang selalu menolak untuk kembali. Dan Hati yang tak pernah lelah untuk memaafkan lalu menyiangi sibiran luka dengan te...

PUSPA

Andai saja waktu berbaik hati. Membuka obrolan seperti malam-malam biasanya. Memberanikan diri untuk bertanya ada apa sebenarnya dengan "kita". Merendahkan ego agar cerita tetap berjalan sesuai dengan alur kisahnya. Laksana puspa yang kehilangan daun pelindung. Bagian terakhir yang menjadi tempat tumbuh bunga selanjutnya. Perlahan akan mati. Meninggalkan mahkota dan kelopaknya. Banyak andai yang disesali. Satu kata, lima huruf, berjuta penyesalan. Kita seperti sepasang ego yang membatu. Yang tak pernah mencoba untuk berdamai. Tetapi aku akan tetap menyiraminya Memberi semua cahaya Agar kau bisa tetap mengenalinya Puspa. Penuh makna. Penuh pengharapan. Tirai malam hiasi serambi seribu puspa. Kerinduan yang teramat dalam. Kutitipkan semesta kepadamu. Layaknya puspa yang tetap mekar dan harum. Kehidupan pun akan terus berjalan. Meski tanah yang dipijaki. Tak lagi berarti.

Tokoh Legendaris

Halo apa kabar? Rasanya sudah lama sekali ya kita tidak berbincang dengan tawa yang sangat menyenangkan. Tenang, tenang saja. Aku tidak akan memintamu untuk kembali. Bagaimana pun sesuatu yang telah pergi akan berbeda jika terulang kembali. Aku hanya rindu, tidak kurangan dan tidak berlebihan. Kamu ingat tidak? Perihal mimpi kita yang pernah kita tulis dalam angan semesta untuk bisa membelah hutan belantara bersama, rupanya tak akan terwujud. Menikmati pergantian malam dan pagi dari atas puncak gunung juga tak akan jadi nyata. Entahlah. Entah itu benar-benar mimpi kita atau hanya aku yang berharap saja. Aku ingat sekali saat kita berjanji untuk mengunjungi Mahameru kala itu, kau yang sangat antusias dan pada akhirnya aku hanya berjalan sendiri, mengunjungi Mahameru dan menitipkan namamu dalam bingkai lengkuk awan yang kebiru-biruan, percayalah didalam hati saat itu aku menyebut namamu. Ya, nama yang semakin lama semakin memudar. Suara yang dulu jelas kudengar kini kian...