RUMAH
Sejak awal ia memutuskan untuk pergi. Saat itu pula aku giat mendoakannya. Berdoa agar rumahku selalu bersinar dan tetap hangat. Jika saat ini rumah itu hancur, aku akan ikut hancur. Karena didalam bangunannya ada seutas tali yang sengaja ku tinggalkan, untuk menjaga agar rumah itu tetap kuat dan kokoh. Seutas tali yang dalamnya berisi banyak doa dan harapan. Dan pada saat rumah yang dulu kujadikan rumah itu hancur. Bagaimana bisa aku merayakan kehancuran itu? Rumah yang selama ini aku singgahi. Rumah yang selayaknya rumah, menaungi saat terik menyinari. Bahkan aku sendiri yang menginginkan ia tetap berdiri kokoh. Tidak terdengar lagi tawa didalamnya. Tidak ada kebahagiaan. Hanya ada kesedihan. Haruskah aku mengunjunginya? Untuk sekadar memastikan apakah ia baik-baik saja. Terkadang. Ego dan hati selalu tidak bisa berdamai perihal rumah ini. Ego yang selalu menolak untuk kembali. Dan Hati yang tak pernah lelah untuk memaafkan lalu menyiangi sibiran luka dengan te...