Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2020

RUMAH

Sejak awal ia memutuskan untuk pergi. Saat itu pula aku giat mendoakannya. Berdoa agar rumahku selalu bersinar dan tetap hangat. Jika saat ini rumah itu hancur, aku akan ikut hancur. Karena didalam bangunannya ada seutas tali yang sengaja ku tinggalkan, untuk menjaga agar rumah itu tetap kuat dan kokoh. Seutas tali yang dalamnya berisi banyak doa dan harapan. Dan pada saat rumah yang dulu kujadikan rumah itu hancur. Bagaimana bisa aku merayakan kehancuran itu? Rumah yang selama ini aku singgahi. Rumah yang selayaknya rumah, menaungi saat terik menyinari. Bahkan aku sendiri yang menginginkan ia tetap berdiri kokoh. Tidak terdengar lagi tawa didalamnya. Tidak ada kebahagiaan. Hanya ada kesedihan. Haruskah aku mengunjunginya? Untuk sekadar memastikan apakah ia baik-baik saja. Terkadang. Ego dan hati selalu tidak bisa berdamai perihal rumah ini. Ego yang selalu menolak untuk kembali. Dan Hati yang tak pernah lelah untuk memaafkan lalu menyiangi sibiran luka dengan te...

PUSPA

Andai saja waktu berbaik hati. Membuka obrolan seperti malam-malam biasanya. Memberanikan diri untuk bertanya ada apa sebenarnya dengan "kita". Merendahkan ego agar cerita tetap berjalan sesuai dengan alur kisahnya. Laksana puspa yang kehilangan daun pelindung. Bagian terakhir yang menjadi tempat tumbuh bunga selanjutnya. Perlahan akan mati. Meninggalkan mahkota dan kelopaknya. Banyak andai yang disesali. Satu kata, lima huruf, berjuta penyesalan. Kita seperti sepasang ego yang membatu. Yang tak pernah mencoba untuk berdamai. Tetapi aku akan tetap menyiraminya Memberi semua cahaya Agar kau bisa tetap mengenalinya Puspa. Penuh makna. Penuh pengharapan. Tirai malam hiasi serambi seribu puspa. Kerinduan yang teramat dalam. Kutitipkan semesta kepadamu. Layaknya puspa yang tetap mekar dan harum. Kehidupan pun akan terus berjalan. Meski tanah yang dipijaki. Tak lagi berarti.